Friday , December 15 2017
Home / Berita Terbaru / Tarif Listrik yang Semakin Mencekik

Tarif Listrik yang Semakin Mencekik

Merakyat2Membengkaknya tagihan listrik yang cukup drastis menjadi salah satu topik hangat yang dibicarakan oleh masyarakat akhir – akhir ini. Beragam komentar mereka sampaikan melalui kolom surat pembaca yang memang disediakan oleh media cetak untuk menampung aspirasi para pembacanya. Selain itu media sosial juga menjadi sarana yang banyak digunakan untuk mencurahkan unek-unek maupun keberatan mereka atas keluarnya kebijakan yang dinilai memberatkan tersebut. Alhasil, topik tentang “penyesuaian” tarif listrik ini pun menjadi salah satu “trending topic” di beberapa media sosial ternama.

Namun, penderitaan masyarakat tersebut justru disambut dingin oleh pemerintah. Perusahaan Listrik Negara (PLN) menampik adanya kenaikan tarif listrik sebagaimana yang dituduhkan oleh masyarakat. Dirut PLN Sofyan Basir bahkan tidak ragu untuk mengambil lagkah hukum untuk mengejar orang-orang yang dianggap telah menyebarkan “fitnah” tersebut. Beliau berdalih, pencabutan subsidi terhadap pelanggan 900 watt itu dilakukan karena subsidi yang diberikan selama ini tidak tepat sasaran. Banyak warga yang sebenarnya mampu (seperti pemilik kos-kosan) justru menikmati fasilitas yang sebenarnya diperuntukkan bagi orang-orang yang membutuhkan.

Padahal, kenyataannya tidaklah demikian. Kondisi di lapangan menunjukkan, kalangan masyarakat berpenghasilan di bawah UMK juga banyak yang menggunakan listrik 900 watt. Mereka yang berprofesi sebagai petani, buruh kasar, tenaga honorer sampai dengan sopir angkot paling merasakan beban pasca pemerintah mengeluarkan kebijakan yang menambah berat beban hidup tersebut. Komitmen Presiden Joko Widodo untuk menurunkan tarif listrik sebagaimana yang pernah disampaikan pada masa kampanye Pilpres 2014 pun nampaknya hanya tinggal kenangan yang entah kapan dapat direalisasikan. Adapun Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) sebagai refresentasi dari rakyat yang diwakilinya tidak mampu menahan kebijakan pemerintah tersebut. DPR belum mampu memberikan masukan kepada pemerintah untuk meninjau kembali kebijakan yang telah memberatkan rakyat itu,

Rindu Sosok Dahlan Iskan

Kondisi yang sangat memprihatinkan semacam ini seakan mengingatkan kita kembali akan sosok seorang mantan pejabat yang benar-benar memiliki visi untuk melayani kepentingan masyarakat serta menghadapi berbagai permasalahan secara arif dan bijaksana. Adalah Dahlan Iskan, mantan Dirut PLN yang kemudian dipercaya oleh Presiden SBY untuk menakhodai Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Pria yang dikenal ramah dan piawai dalam mengelola perusahaan ini ternyata mampu menunjukkan kharismanya sebagai seorang pemimpin sejak beliau diangkat menjadi Dirut PLN menggantikan Fahmi Mochtar pada tahun 2009 lalu.

Selama dua tahun kepemimpinannya, Dahlan Iskan benar-benar mencurahkan tenaga dan pikirannya untuk memperbaiki kinerja PLN. Tujuan hanya satu, yaitu bagaimana perusahaan milik negara ini benar-benar mampu memenuhi kebutuhan masyarakat dengan tidak terlalu membebaninya. Berbagai terobosan pun dilakukannya untuk menghemat biaya produksi sekaligus memaksimalkan pelayanan kepada masyarakat.

Adapun efisiensi dan memaksimalkan penggunaan energi kunci keberhasilan Dahlan Iskan saat memimpin perusahaan yang menyangkut hajat hidup orang banyak itu. Untuk mengurangi biaya produksi, Dahlan Iskan mencanangkan penggunaan gas metana batubara (CBM) menggantikan solar yang selama ini digunakan oleh PLN. Selain harganya lebih murah, jumlahnya pun cukup melimpah di tanah air. Selain itu Dahlan Iskan juga merubah pengadaan barang di PLN dengan hanya menenderkan barang yang benar-benar dibutuhkan saja.

  Efisiensi lain yang dilakukan Dahlan Iskan adalah menghapus Surat Perintah Perjalanan Dinas (SPPD) bagi karyawan PLN. Artinya, setiap karyawan yang melakukan perjalanan dinas tidak akan mendapatkan biaya pengganti dari kantornya. Melalui cara ini Dahlan Iskan seakan ingin memberikan pesan bahwa keberadaan mereka di dalam perusahaan milik negara adalah benar-benar untuk melayani masyarakat, bukan mencari keuntungan yang sebesar-besarnya. Selama menjadi Dirut PLN, beliau sendiri tidak pernah menikmati gajinya karena niatnya memang untuk mengabdi kepada negara.

Untuk memudahkan masyarakat dalam mendapatkan pasokan listrik, Dahlan Iskan menggagas program Gerakan Sehari Sejuta Sambungan (Grass) listrik baru. Masyarakat saat itu bisa menikmati sambungan listrik baru tanpa sepseser pun dipungut biaya. Pada mulanya, kebijakan tersebut dianggap tidak realistis mengingat keterbatasan yang dimiliki . Namun, tak lama kemudian terobosan itu pun mendatangkan hasil. Pelanggan listrik semakin bertambah banyak dan pada akhirnya menambah pendapatan pula bagi PLN.

Kecintaan Dahlan Iskan terhadap rakyat nyatanya tidak berhenti sampai disitu. Saat pemerintah hendak mengurangi subsidi listrik pun, yang dilakukannya bukanlah memarahi para pelanggan yang tidak setuju dengan keputusan yang diambil oleh pemerintah tersebut. Sebagai Dirut, Dahlan Iskan justru meminta jaminan kepada pemerintah untuk menjaga pasokan gas bagi PLN agar pelayanan kepada masyarakat tidak terganggu. Dengan begitu, dampak sosial – ekonomi dari kenaikan tarif listrik pun dapat diminimalisir.

Mengingat banyaknya prestasi yang berhasil ditorehkan, kita pun hanya bisa berharap, di masa yang akan datang akan lahir sosok-sosok pejabat seperti Dahlan Iskan yang benar-benar menjadikan jabatan sebagai sarana untuk melayani kepentingan masyarakat. Semoga.

(Tulisan ini merupakan Opini Kang Agus Masykur yang Dimuat di Koran Pasundan Ekspres Edisi 20 Juni 2017)

 

This Post Has Been Viewed 41 Times

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *