Home / Berita PKS / Ridwan Kamil Selametin PKS

Ridwan Kamil Selametin PKS

ridwan kamil - mang oded

Kompasiana : by Andri 24id

Kang Emil sapaan khas Ridwan Kamil bakal terpilih jadi walikota Bandung bersama Mang Oded. Dari berbagai survey menunjukkan angka yang hampir konsisten menunjukkan pasangan ini bukan hanya menang satu putaran, tapi menang telak dengan mengantongi kemenangan sekitar 45%.

Ridwan Kamil dan Mang Oded diusung oleh PKS dan Gerindra. Gimanapun juga, semua partai di negeri ini lagi diuji menghadapi suasana kisruh dari sistem kepartaian dan tata laksana bernegara yang carut marut. Hanya partai yang sehat dan siap tumbuh yang akan bertahan dan segera menemukan kemajuannya.

Keberanian PKS sebagai partai yang secara aturan bisa mengambil inisiatif mencalonkan walikota, memiliki keberanian untuk menunjuk Ridwan Kamil untuk menjadi walikota. Sementara partai lain hanya berani menawarkan Ridwan Kamil sebagai seorang wakil atau ban serep. Padahal PKS menilai sosok Ridwan Kamil sangat tepat untuk diusung menjadi komandan bagi perbaikan kota Bandung.

Ridwan Kamil bisa saja memilih maju sebagai seorang independen. Kredibilitas dan integritasnya yang teruji akan menjadi sebuah potensi bagi kemenangan pencalonannya. Hanya yang patut digaris bawahi adalah keputusan beliau yang mau diusung oleh PKS untuk menjadi walikota dari jalur partai dan tidak maju sebagai seorang independen. Saya menilai inilah kematangan dan wawasan beliau tentang keberhasilan sebuah perjuangan yang bisa dilakukan dalam sebuah kebersamaan yang terorganisir. Bahkan ibunda beliau yang sangat dihormatinya menyarankan Kang Emil tentang pilihan bekerja bersama PKS. Demikian yang disampaikan sang ibu saat sosialisasi pasangan ini dihadapan para kader PKS.

Popularitas yang Naik dengan Cepat

Sekalipun banyak kalangan mengenal dan yakin dengan Ridwan Kamil bisa menjadi walikota, survey internal PKS mengukur bahwa popularitas beliau ternyata masih dibawah satu digit. Dibandingkan kandidat lain yang maju sebagai petahana mereka sudah memiliki popularitas hampir mencapai angka sempurna 100%.

Ridwan Kamil memang tokoh Internasional yang Terkenal. Yang keterkenalannya berbeda dgn keterkenalan seorang Jokowi yang memang fenomenal. Ridwan Kamil terkenal karena basic knowledge dan kredibiltas beliau tentang perkotaan ditambah dengan kemampuan beliau berinteraksi secara sosial-komunal.

Sementara Jokowi terkenal karena memang track-record dari jabatan yang relatif sama. Ditambah dengan sosok Jokowi yang memang menjadi harapan publik secara umum. Sehingga kepopuleran beliau yang kemudian ditambah dengan kerja media, membuatnya lahir menjadi seorang tokoh yang popularitasnya baik.

Popularitas yang teramat rendah pada saat pertama diusung adalah karena memang masyarakat kita tidak semuanya melek informasi yang secara berkala mengupdate informasi. Masyarakat kota Bandung masih menyimpan beberapa wilayah yang bentuknya pertanian konvensional dan lebih menunjukkan masyarakat kampung atau lembur.

Beberapa yang lain masyarakat kota Bandung itu ada sebagai masyarakat urban yang fokus perhatiannya tidak akan menemukan track-record seorang Ridwan Kamil dalam directory konsumsi informasinya. Sehingga wajar bila diawal pencalonan PKS mensurvey popularitas pasangan Ridwan Kamil dan Mang Oded ini hanya mencapai angka 1 digit.

Kesadaran dari stake holder pengusung Ridwan Kamil & Mang Oded ini yang kemudian segera menangkap sisi lemah itu. Kemudian secara masiv mereka melakukan aktivitas menaikkan popularitas. Tak kurang mesin partai dari PKS langsung meresponnya dengan memasukkannya kedalam mekanisme konsoilidasi pekanan yang khusus dan menambah intensitas konsolidasi terebut dengan skema konsolidasi yang sifatnya lebih umum masih dalam skala waktu pekanan.

Kemudian jaringan itu bekerja sampai ke tingkat struktur ranting atau kelurahan dengan pola kerja menyisir area publikasi setingkat TPS. Hal ini bisa dilakukan karena jaringan struktur PKS sudah sejak pemilu tahun 1999 menggarap jaringan publikasi kewilayahan. Sudah sejak lama PKS punya kerja mengangkat popularitas partai dan ketokohan kader PKS. Misalnya dengan mekanisme Direct Marketing yang aplikasinya adalah blusukan dalam rencana dan kontrol dalam skala organisasi yang bergerak secara masif.

Saya sendiri waktu itu mengalami pengalaman menarik bersama Ridwan Kamil. Ketika diberitakan hasil survey internal PKS menyatakan kemenangan tipis Ridwan Kamil & Mang Oded, namun dengan kekalahan yang masih telak di wilayah saya yakni masih dibawah 20% melawan lebih dari 40% lebih dari petahana. Maka seluruh kader di DPC kami bergerak nyaris 24 jam dalam waktu seminggu.

Baik bergerak secara politik kepada kantong-kantong suara basis lawan, membuat master plan kegiatan jangka panjang yang menarik perhatian masyarakat, dan banyak lagi kerja politik yang semuanya dilakukan secara mandiri atau udunan sesama kader. Sampai-sampai dalam sebuah rangkaian kampanye yang sudah termasuk dalam agenda peningkatan elektabilitas tersebut, saya melihat raut kepuasan dari Kang Emil atas kerja kami.

Bahkan ketika kami selesai bekerja bersama dengan acara super meriah bersama Kang Emil, kampanye mobile kami ke pelosok kampung dan lembah kota Bandung , kami kembali berpapasan dengan rombongan Kang Emil. Dan beliau berkenan mengucapkan SMS terima kasih kepada kami.

Saat itulah teman saya merasakan kebersamaan dengan Kang Emil yang tinggi. Dan menilai beliau memahami arti sebuah perjuangan yang harus dilakukan bersama-sama. Kawan saya merasa kerja jaringan PKS ini di selamatin sama Kang Emil, dengan ucapan kira-kira ucapan terima kasih dan selamat berkampanye terus.”

Hasilnya dari keadaan semula hasil survey internal PKS menunjukkan daerah kami hanya meraih 20% sedangkan lawan 40%, kemudian dari survey internal PKS sebagai survey terakhir sesaat sebelum pencoblosan pasangan Ridwan Kamil Mang Oded meraih kemenangan.

Kemudian dibuktikan dengan hasil perolehan dari setiap TPS menunjukkan daerah kami menang dengan angka diatas 42% mendekati angka survey yang dilakukan berbagai lembaga yang berkisar antara 45%-47%. Perjuangan itu dilakukan dengan terus berkonfrontasi dengan kasus-kasus yang cenderung penuh intrik-intrik yang kadar emosionalnya tinggi dengan para lawan yang bergerak semakin keras dan kasar.

Kemenangan Jokowi di Jakarta dan Ridwan Kamil di Bandung adalah kolaborasi yang berhasil dari ketokohan dan kepartaian. Karena realitas politik di Indonesia memang berada di gerbang perubahan. Dimana bila tidak ada kombinasi yang cerdas dan ikhlas, maka proses perubahan itu akan berjalan di tempat. Karena kita juga melihat kenyataan, bahwa tokoh-tokoh independen sejauh ini juga masih banyak yang gagal dalam pertarungan pilkada.

Saya melihat dampak kolaborasi partai dan ketokohan bagi Jokowi adalah turut mengantarkan ketokohan beliau menang walau dalam dua putaran. Kemudian dampak kolaborasi yang sama dengan mesin partai yang bekerja efektif antara Kang Aher dan Deddy Mizwar, mengantarkan ketokohan Bang Deddy menang 1 putaran. Kemudian dampak kolaborasi ketokohan dan partai yang mesin bekerja lebih efektif, membuat pasangan Ridwan Kamil dan Mang Oded, dari elektabilitas satu digit melawan petahan yang elektabilitasnya tinggi sampai menang telak 45%.

Ada sebuah sebuah contoh menarik yang lain tentang kolaborasi ketokohan dan mesin partai; adalah ketika tokoh PKS yang mencalonkan dari jalur independen justru menang melawan gempuran koalisi partai-partai lain yang lebih kuat. PKS pada kasus Seruyan ini tidak bisa meloloskan kadernya menjadi calon karena kurang jatah kursi di dewan. Tapi dengan kondisi yang minim, mesin politik jaringan PKS bekerja dan berhasil memenangkan pilkada Seruyan ini dengan mencalonkan kader PKS dari jalur independen.

Masa depan adalah ditangan orang-orang yang memiliki daya kolaborasi yang tinggi. Mampu mengkombinasi berbagai potensi seperti memadukan antara laptop dan handphone menjadi i-phone, atau i- pad.

Kompasiana : http://politik.kompasiana.com/2013/06/24/ridwan-kamil-selametin-pks-567883.html

This Post Has Been Viewed 45 Times

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *