Thursday , October 18 2018
Home / Berita Terbaru / Mencermati Manuver PKS Dalam Pilpres | By @SangPemburu99

Mencermati Manuver PKS Dalam Pilpres | By @SangPemburu99

99

SANG PEMBURu
@SangPemburu99


Dinamika politik menjelang Pilpres 2014 makin menarik dicermati. Partai2 saling bermanuver menggalang koalisi.

Salah satu partai yg cukup menyedot perhatian adalah PKS. Publik menunggu-nunggu langkah apa yg akan diambil partai ini menyongsong pilpres.

Mengapa langkah PKS cukup menarik perhatian publik? Bukankah sempat ada kesan bahwa partai2 lain cenderung enggan “berkawan” dgn PKS?

Kesan itu terbangun setelah PKS melakukan berbagai langkah berani dgn mengambil sikap berbeda dgn Partai Demokrat terkait bbrp isu strategis

Masih ingat isu Bank Century? Masih ingat isu angket mafia pajak? Isu kenaikan harga BBM? Dlm isu2 itu PKS berani berseberangan dgn PD.

PD yg notabene merupakan pimpinan koalisi dan partai terbesar sempat dibuat frustrasi dgn sikap PKS yg “tdk bisa dikendalikan” dan “bandel”.

Bahkan akibat sikap berani PKS itu, portofolio PKS di kabiet dikurangi dgn dicopotnya Menristek Suharna Surapranata.

Dan tidak berhenti sampai disitu. Banyak elit PD mendesak SBY untuk “menendang” PKS dari Setgab.

PKS jg sempat tdk diundang dlm bbrp rapat Setgab. Intinya, PKS dikucilkan dan saat itu hampir semua org menduga PKS akan sgr “ditendang”.

Namun apa yg terjadi? Ternyata sampai hari ini, menjelang berakhirya masa kekuasaannya, SBY tetap tidak berani mengeluarkan PKS dari kabinet

Sikap SBY ini sempat membuat frustrasi sebagian elit Demokrat seperti @ulil dan @ruhutsitompul yg sudah gerah dgn manuver PKS.

Tapi apa mau dikata, SBY punya pertimbangan dan perhitungan sendiri dg membiarkan PKS tetap di kabinet sampai berakhir pemerintahannya.

Dari kasus itu akhirnya dimunculkan “imej” bahwa PKS itu bukan kawan koalisi yang baik. PKS tidak konsisten, PKS mau menang sendiri, dsb.

Namun ternyata imej itu tidak terbukti, paling tidak fakta yg tersaji dlm beberapa hari ini. Ternyata masih banyak yg berminat m’gandeng PKS

Kemarin terungkap bahwa kubu ARB dan Prabowo sudah intens berkomunikasi dgn PKS. Bahkan Prabowo sdh menyampaikan surat resmi ajakan koalisi.

Sempat mencuat juga rencana SBY membentuk poros baru dgn menggandeng PAN, PKB dan PKS. Intinya, msh banyak yg berminat melamar PKS.

Lalu pertanyaannya, mengapa PKS msh dianggap menarik untuk diajak berkoalisi dlm Pilpres mendatang? Apa mereka gak mau belajar dr Demokrat?

Menurut saya, setidaknya ada bbrp faktor yg membuat PKS masih banyak dilirik untuk diajak berkoalisi memenangkan pilpres mendatang.

(1/2) Pertama, perolehan suara PKS yg mencapai kurang lebih 7%. Hasil ini jauh di atas hasil survei berbagai lembaga yg memprediksi ..

(2/2) capaian suara PKS akan terjun bebas, bahkan ada yg memprediksi PKS tdk lolos PT 3%.

Raihan suara PKS itu telah menjungkirbalikkan prediksi berbagai lembaga survei, termasuk lembaga2 yg “sudah punya nama”.

Fakta itu membuat bargaining position PKS tetap kuat. Makanya tak heran, kubu ARB dan Prabowo intens mendekati PKS utk diajak berkoalisi.

Dan hal itu makin diperkuat fakta bahwa capaian suara PKS itu hanya mengandalkan kerja mesin partai. Mengapa demikian?

Tidak ada 1 caleg pun di PKS yang berstatus sebagai artis/pesohor. Bandingkan dgn partai2 lainnya yg berlomba memasang artis sbg calegnya.

Apalagi perolehan kursi PKS di DPR yang besar kemungkinan tidak kalah dengan kursi PKB yg perolehannya di atas PKS (9%).

Ini tdk lepas dr sebaran basis massa PKS yg cukup merata (tdk “numpuk” di satu wilayah spt PKB) shg menguntungkan dalam hal perolehan kursi.

Faktor jumlah kursi ini juga penting mjd pertimbangan khususnya bila dikaitkan dgn dukungan parlemen utk mengamankan kebijakan pemerintah.

Faktor kedua yang membuatnya masih menarik/dilirik partai lain utk diajak koalisi dlm pilpres mendatang adalah kinerja mesin politiknya.

Sejak keikutsertaannya dlm pemilu 1999, kinerja mesin PK/PKS dikenal cukup handal karena didukung kader2 yang militan dan mau berkorban.

Di pileg 2014 kemarin misalnya, peran saksi2 dr PKS sangat menonjol dibanding saksi partai lain dlm proses pemungutan & penghitungan suara.

Militansi kader PKS dlm menjaga dan mengamankan suaranya juga terbukti membuat pihak2 yg akan berbuat curang berpikir dua kali.

(1/1) Saksi2 yg militan spt saksi2 dari PKS ini tentunya sangat diperlukan dlm pilpres nanti. Shg tdk tertutup kemungkinan,..

(2/2) … saksi2 dr PKS lah yg justru lebih diandalkan daripada saksi2 dari parpol si capres itu sendiri. Ini jg terukti di pemilu 2009 dulu

Dengan dua faktor utama tersebut, maka tak heran kalau PKS masih menjadi primadona utk diajak koalisi (tentunya di luar kubu Jokowi/PDIP).

Lalu kemana arah pilihan PKS untuk berkoalisi? Berdasarkan inforasi dari bang @Fahrihamzah lewat kultwitnya kemarin, sdh cukup jelas.

Ya, nampaknya pilihan berkoalisi PKS jatuh ke capres partai @Gerindra , Prabowo Subianto. Ini sesuai dugaan saya spt kultwit terdahulu :)

Dan menurut hemat saya, pilihan bergabung mengusung Prabowo adalah pilihan terbaik dari terbatasnya pilihan yg ada. Pilihan paling rasional.

Idealnya memang PKS bersama2 partai2 berbasis Islam lainnya (PKB, PAN, PPP, PBB) menggalang poros terpisah utk mengusung capres sendiri.

Namun realita politik yg kita saksikan berbicara lain. Bersatunya partai2 berbasis Islam itu baru sebatas wacana.

Ketiadaan “figur pemersatu” dan ego masing2 partai mjd hambatan terbentuknya poros partai berbasis Islam itu.

Hanya PKS yg nampak serius dgn wacana itu. Sedangkan yg lain hanya sekedar “menggugurkan kewajiban”. Mau bukti?

Hanya PKS lah yg mengirim wakilnya scr “fullteam”. Ada presiden partai, sekjen, dan jajaran pengurus DPP.

Sedangkan partai2 lain hanya mengirimkan perwakilan “seadanya” saja. Dari sini saja sdh nampak PKS yg paling bisa menepikan ego politiknya.

Setelah wacana poros partai2 berbasis Islam kandas, apakah PKS harus berdiam diri? Tentu saja tidak.

PKS harus menentukan pilihan di tengah amat terbatasnya pilihan itu. PKS harus memilih yang paling rasional. Pilihan terbaik dr yg ada.

Yang jelas, PKS “tidak mungkin” bergabung dgn PDIP mendukung Jokowi. Mengapa? Anda semua tentu sudah tahu jawabannya 😀 cc @MustofaNahra

Lalu bagaimana dgn pilihan bergabung dgn Golkar mengusung Ical? Ada banyak catatan di sini yg harus dicermati.

Elektabilitas ARB yg tak kunjung terdongkrak dan dukungan internal Golkar kpd ARB yg tdk maksimal adalah catatan penting yg hrs dilihat.

Lalu bagaimana dgn pilihan berabung ke kubu SBY yg “konon” akan membentuk poros baru mengusung capres sendiri? Pilihan ini jg problematik.

(1/1) Pertama, tdk ada figur alternatif yg kemungkinan didukung poros bentukan SBY yg elektabilitasnya cukup memadai.

(2/2) Kedua, pebentukan poros itu baru wacana. Tdk ada jaminan partai2 spt PAN, PKB mau diajak PD bergabung membuat poros baru.

Dan pilihan berikutnya adalah bergabung ke @Gerindra mengusung Prabowo sbg capres. Inilah pilihan yg paling rasional. Mengapa demikian?

Pertama, Prabowolah capres yg paling berpeluang utk menandingi elektabilitas Jokowi. Setidaknya ini berdasarkan survei2 yg ada.

Kedua, Gerindra adalah partai yg sedang “naik daun” (the rising star), spt PD dan PKS di tahun 2004.

Artinya mesin politik Gerindra yg solid dgn didukung dana yg memadai merupakan “advantage” tersendiri utk menopang kemenangan Prabowo.

Dan ketiga, dari semua capres yg ada, Prabowo lah yg terlihat paling intens dan serius mengajak PKS berkoalisi memenangkan pilpres.

Dengan demikian, bergabung dgn @Gerindra mengusung @Prabowo08 adalah pilihan terbaik bagi PKS saat ini di antara pilihan2 lainnya yg ada.

Namun tentu saja setiap pilihan politik ada risikonya, termasuk pilihan PKS bergabung dgn Gerindra mendukung Prabowo.

Lalu apakah mendukung Prabowo merupakan pilihan ideal bagi PKS. Jelas tidak!! Tapi PKS tdk bisa berdiam diri hanya mjd penonton.

Namun ketidakidealan itu bisa sedikit dikurangi dgn membuat komitmen politik yg jelas antara PKS dan Gerindra. Termasuk bila nanti kalah.

Dan menurut saya, PKS dan Gerindra harus berkomitmen bila nanti kalah, harus tetap beroposisi, tidak bergabung ke kubu pemenang.

Lalu apakah cukup hanya Gerindra dan PKS yg mengusung Prabowo dlm pilpres mendatang? Menurut saya tidak cukup!

Dibutuhkan paling tidak 1 partai lagi untuk bergabung mendukung Prabowo.

Kalau melihat kecenderungan konstelasi politik saat ini, partai yg berpeluang besar mengusung Prabowo adalah PAN dan Hanura.

PAN itu “fleksibel” bisa kemana saja, asal mau mencalonkan Hatta Rajasa sbg cawapresnya. Sdgkan Hanura juga berpeluang bergabung, mengapa?

Kita lihat Wiranto sudah “rujuk” dgn Prabowo. Perang dingin di antara mereka sejak peristiwa 1998 nampaknya sdh berakhir.

Dan Wiranto saya kira juga cukup realistis melihat perolehan suara partai Hanura yg menduduki peringkat terbawah dr 10 partai yg lolos PT.

Bagaimana dgn PKB? Nampaknya partai ini sdh kepincut dgn Jokowi dan bergabung dgn PDIP, meski harus “meninggalkan” si raja dangdut…

Artinya, kemungkinan besar Wiranto tdk akan memaksakan diri maju sbg capres/cawapres. Meski opsi sbg cawapres Ical juga masih terbuka.

…yg telah berkontribusi besar mengerek perolehan suara PKB kemarin. Soal janji mau mencapreskan Rhoma? Ah, seribu alasan bisa dibuat..

Bagaimana dgn PPP? Nampaknya partai ini ada sinyal bakal bergabung ke kubu PDIP pasca “kemenangan” kubu Emron Pangkapi dan Romi atas SDA.

Lalu bagaimana dengan Demokrat? Saran saya, cuekin saja! 😀 Kalau Golkar? Hehe, partai ini msh sibuk dgn masalah internalnya yg gak solid.

Kalau Golkar dan Demokrat gagal mendapat kawan, bisa saja mereka bersatu :) ARB bisa dipasangkan dgn pemenang konvensi Demokrat.

Dengan demikian akan ada 3 kubu. 1. PDIP-Nasdem-PKB-PPP, 2. Gerindra-PKS-PAN-Hanura, dan 3. Golkar-PD. Namun “formasi” ini bisa berubah…

Bila Demokrat memilih bergabung dgn Gerindra mengusung Prabowo. Dan Golkar? Tak ada pilihan lain kecuali bergabung dgn PDIP!

Sehingga pilpres nanti akan terjadi head to head antara kubu Jokowi dan Prabowo.

Kalau sampai terjadi duel head to head antara Jokowi vs Prabowo, ini akan menjadi pertarungan sengit. Gajah vs Gajah.

Namun nampaknya itu belum akan terjadi, setidaknya di putaran pertama. Saya tetap menduga ada minimal 3 pasang capres cawapres di putaran I.

Dan pada putaran kedua, barulah akan terjadi head to head antara kubu Jokowi vs Prabowo dgn membawa gerbong masing2.

Lalu bagaimana PKS harus bermain dalam pertarungan itu? Tak ada kata lain, PKS harus ikut bermain dgn “totalitas”. Jangan setengah2.

Lepas bagaimana nanti hasilnya, itu tidak menjadi masalah. Kalah sekalipun bukan kiamat bagi PKS. Mengapa demikian?

Pertama, PKS masih bisa menjalankan fungsinya dgn optimal sbg oposisi yg kuat di parlemen.

Apalagi bila ada komitmen dgn Gerindra dan partai2 pendukung lainnya untuk KONSISTEN menjadi oposisi bila kalah dlm pertarungan pilpres.

Kedua, meski di tingkat pusat PKS menjadi oposisi, namun di tingkat lokal PKS masih bisa berjuang memenangkan pertarungan melalui Pilkada.

Beberapa daerah sampai sejauh ini sudah dimenangkan PKS baik di tingkat propinsi maupun tingkat kabupaten/kota.

Di daerah2 di mana kepala daerahnya adalah kadernya, PKS masih bisa membuktikan dedikasinya untuk kemashlahatan masyarakat banyak.

Sekali lagi saya hanya berpesan melalui kultwit ini, bila nanti jago PKS kalah dlm pilpres, tetap KONSISTEN untuk jadi OPOSISI!

Jangan mau dibujuk untuk bergabung dlm pemerintahan sang capres rival. Ini demi marwah partai, kader, dan segenap simpatisan.

(1/1) Dan dgn konsisten berperan sebagai oposisi yang kuat dgn mengkritisi kebijakan2 yg merugikan kepentingan rakyat banyak, maka PKS ..

(2/2)..telah memiliki “tabungan” untuk pertarungan 5 tahun yang akan datang.

Jadi saya ucapkan selamat berjuang kepada PKS beserta segenap kader dan simpatisannya. Tanamkan “tsiqoh” kepada para pimpinannya.

(1/1) Apapaun keputusan yang diambil terkait pilpres nanti, itu semua adalah ijtihad politik yang diambil berdasarkan syuro dgn pertimbangan

(2/2)…kemashlahatan umat, bukan demi mengejar kekuasaan an sich.

Sekian kultwit tentang “MENCERMATI MANUVER PKS DALAM PILPRES 2014” ini. Semoga bisa menambah wawasan dan mencerahkan. Wassalam.

sumber: pkssumut.or.id

This Post Has Been Viewed 115 Times

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *