Friday , December 15 2017
Home / Berita PKS / Genosida di Era Milenia

Genosida di Era Milenia

RohongyaPeristiwa yang sangat memilukan kembali terjadi dan menodai nilai – nilai kemanusiaan yang sejatinya dijunjung tinggi oleh seluruh bangsa di dunia. Adalah Rohingya, sebuah etnis dengan mayoritas beragama Islam terpaksa harus meninggalkan kampung halamannya ke negara tetangga untuk menghindari kekejaman yang dilakukan oleh aparat setempat. Dalam hal ini pemerintah Myanmar diduga telah melakukan kekerasan secara terencana terhadap ribuan penduduk yang mereka anggap sebagai pendatang illegal tersebut. Ribuan nyawa bahkan diperkirakan melayang hanya dalam hitungan hari sejak meletusnya konflik yang terjadi  di wilayah Rakhine sejak akhir Agustus lalu. Ironisnya, kebiadaban semacam ini justru terjadi di  sebuah era dimana “bahasa” kekerasan ataupun penjajahan tidak lagi mendapatkan tempat.

Reaksi pun bermunculan menyikapi apa yang disebut oleh sebagian besar masyarakat internasional sebagai genosida di era modern tersebut. Masyarakat dari seluruh dunia mengutuk keras kekejaman yang dilakukan oleh aparat terhadap penduduk sipil yang tidak berdaya itu. Tuntutan agar Nobel Perdamaian yang diperoleh Aung San Suu Kyi segera dicabut pun disuarakan oleh para pejuang Hak Asasi Manusia {HAM}. Tak hanya itu, tuntutan agar Aung San Suu Kyi  di seret ke pengadilan internasional juga diutarakan sebagai bentuk kekecewaan mereka terhadap diamnya Aung San Suu Kyi saat terjadi pembantaian massal tersebut. Sebagai seorang pemimpin, Aung San Suu Kyi dianggap tidak mampu melindungi warganya dari siksaan yang justru dilakukan oleh aparatnya sendiri.

Jika kita telusuri lebih jauh, kekerasan yang dialami oleh etnis Rohingya tersebut bukan kali ini saja. Beberapa waktu sebelumnya, penduduk mayoritas muslim tersebut juga mengalami kejadian serupa dan memaksa mereka untuk meninggalkan kampung halamannya. Namun, dunia internasional yang kala itu terkesan bersikap “lunak”, membuat peristiwa memilukan semacam ini harus kembali terulang. Tak heran apabila pemimpin Turki Recep Tayyip Erdogan pun mengatakan, sikap yang ditunjukkan oleh Negara – Negara di dunia terhadap kekejaman yang dilakukan oleh pemerintah Myanmar benar – benar memalukan.

Adapun bantuan logistik yang diberikan oleh pemerintah maupun masyarakat Indonesia tidak akan maksimal apabila tidak didukung dengan tekanan politik yang kuat terhadap pemerintah Myanmar. Blokade yang diberlakukan oleh aparat setempat dengan alasan “keamanan” akan sulit ditembus jika tidak dikawal dengan benar. Adapun sekolah ataupun rumah sakit yang kita bangun di daerah konflik hanya akan menjadi bangunan kosong apabila warga setempat tidak berani untuk kembali ke kampung halamannya. Oleh karena itu, sikap tegas pemerintah Indonesia dalam menangani permasalahan semacam ini sangat diharapkan.

Adapun meninjau kembali keanggotaan Myanmar di ASEAN dapat dilakukan oleh pemerintah Indonesia dengan menggalang dukungan dari Negara – Negara anggota lainnya. Sebagai sebuah organisasi yang menjunjung tinggi nilai – nilai kemanusiaan, tidak sepantasnya ASEAN memiliki anggota yang terkesan menutup mata terhadap terjadinya kejahatan kemanusiaan yang terjadi di wilayahnya. Kekerasan yang terjadi secara berulang – ulang menunjukkan bahwa pemerintah Myanmar memang tidak serius dalam menangani konflik yang mengakibatkan jatuhnya ribuan korban  dari warga sipil tersebut.

Selain meninjau kembali kenggotaan Myanmar di ASEAN, membekukan sementara kerjasama bilateral dengan Myanmar juga dapat dilakukan oleh pemerintah Indonesia. Sebagai sebuah Negara yang menjunjung tinggi nilai – nilai kemanusiaan yang adil dan beradab, tidak selayaknya Indonesia memiliki mitra sebuah Negara yang terbukti tidak mampu memandang betapa sangat berharganya nyawa seorang manusia. Dalam hal ini kerjasama antara kedua Negara di berbagai bidang sebaiknya dihentikan untuk sementara waktu hingga pemerintah Myanmar merubah sikapnya. Dengan begitu, kita berharap berbagai tindak kekerasan yang terjadi di daerah konflik tersebut tidak kembali terjadi. (Tulisan ini merupakan opini Kang Agus Masykur yang dimuat di Koran Pasundan Ekspress Edisi 12 September 2017)

This Post Has Been Viewed 18 Times

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *