Friday , December 15 2017
Home / Berita Terbaru / Bila Pak Ogah dan Pak Ableh mengurus Negara by Abdullah Muadz

Bila Pak Ogah dan Pak Ableh mengurus Negara by Abdullah Muadz

image
image from : budiwarsito.net

Oleh : Abdullah Muadz

PKS-SUBANG.ORG – Mendengar isue akan ada penetapan pajak kepada semua sektor kehidupan termasuk warteg, tukang gudeg sampai kepada penjahit, jadi teringat sebuah film si Unyil. Dalam film itu ada dua tokoh yang sangat terkenal yaitu Pak Ogah dan Pak Ableh.

      Kedua tokoh ini telah menjadi symbol sebagai  tukang palak, pemalas, tidak kreatif, pengangguran, berfikir pendek,  suka jalan pintas, tidak punya harga diri, tidak tahu malu, tidak punya rasa kasih sayang, anak kecil jadi sasaran palaknya. Begitulah mental ke dua tokoh terkenal  dalam film si Unyil. Kita bisa bayangkan bagaimana jadinya jika mentalitas seperti ini dimiliki oleh para peyelenggaran Negara….?

       Tukang palak tidak perlu sekolah tinggi tinggi, tidak pusing pusing bagaimana caranya mendapatkan Devisa dan kekayaan Negara, mulai dari susu bayi sampai tanah kubur harus kena pajak, bahkan mulai dari susu ibu hamil sampai menjaga tanah kuburan agar tidak hilang juga harus kena pajak, sekarang mulai merambah ke tukang gudeg, WarTeg, tukang jahit juga harus kena pajak, sebentar lagi orang kentut juga harus kena pajak.  Si Ableh dan Si Ogah barang kali sekarang lagi buka tender untuk membuat  alat sensor kentut, agar dipasang ditempat umum..jadi nantinya setiap keluar rumah kita harus bawa uang receh yang banyak, untuk pipis, BAB, Kentut, buang ludah, lewat jembatan, nyebrang jalan, keluar  dari pertigaan, masuk tol dan lain lain…

       Si pemalas enggan berfikir bagaimana caranya mencari uang yang terhormat, bergengsi  halal dan berkah. Kekayaan yang begitu melimpah mulai dari tambah sampai tanam-tanaman tidak di fikirkan bagaimana caranya mengolah dengan baik, serta mempersiapkan SDM anak bangsa yang mampu mengolah. Yang difikirkan Cuma bagaimana kekayaan Negara ini secepatnya bisa menghasilkan uang. Karena itulah cara berfikir Pak Ogah. Jadi ogah mikir, ogah cape, ogah kerja keras dan seterusnya. Yang paling enak tinggal panggil orang-orang bule untuk segera mengeruk kekayaan itu, berapapun sedikitnya bagi hasil yang penting segera bisa menghasilkan uang. 65 tahun meredeka lomba-lombanya masih makan kerupuk saja, gigit duit disemangka, balap karung, paling banter panjat pinang…. Kapaam yaa kita bisa lomba merakit computer, buat robot, televise, radio, pemancar, lomba riset, penelitian, karya ilmiyah semua diselenggarankan ditiap-tiap RW.. waaah… mimpiiiii… ya mimpi bagi si Pemalas Untuk berfikir…

        Tidak kereatif untuk mencar modal sendiri yang sering dijadikan alasan untuk mengundang investor asing, tidak kereatif bagaimana caranya mencetak anak-anak bangsa agar bisa terampil bisa mengolah kekayaan alamnya sendiri. Tidak percaya diri bahwa kita mampu mengolah kekayhaan alam kita sendiri asalkan kita punya strategi pembangunan dan sekala prioritas dalam menyusun strategi tersebut, desertai sikap sabar, tidak kebelet melihat emas, minyak, gas, batubara  dan potensi kekayaan Negara lainya, tidak buru-buru berfikir agar jadi uang, tapi berfikir bagaimana caranya anak bangsa kita bisa mengolahnya. Pak Ogah dan Pak Ableh tidak bisa melihat anak-anak pegang uang, langsung ingin memilikinya dengan cara paksa atau memalak. Tidak bisa menahan sabar  terus mencari uang dengan keringatnya sendiri, jadi sekarang dilihat sekarang juga harus didapat.

      Pengangguran adalah orang yang tidak tahu apa yang harus dikerjakan, sekian banyak lahan nganggur, peluang begitu luas, tetapi tidak bisa dilihatnya, sehingga pada saat yang bersamaan banyak orang yang kerjanya nongkrong-nongkrong, gajag-gijig, trek-trekan, geng-gengan dan lain lain… lebih bahaya lagi tidak tahu orientasi mau kemana kita berjalan. Dengan lantang mengatakan “ ngegara kita bukan negara agama atau negara sekuler, bukan Negara kapitalis liberalis, bukan Negara sosialis  komunis, bukan Negara ini dan bukan Negara itu, jadi Negara kita adalah Negara yang bukan bukan..” yang di fikirkan oleh Pak Ableh dan Pak Ogah yang penting hari ini saya bisa tidur pulas dan nyenyak..

Berfikir pendek adalah berkir sekarang, hari ini, bulan ini, tahun ini, atau generasi sekarang. Tidak berfikir 5 tahun, 10 tahun 100 tahun, nasib anak, cucu, cicit, cecet , cucut dan seterusnya.

             Hari ini yang penting gedung-gedung tinggi sudah berdiri, lapangan golf sudah banyak, real estate sudah menjamur, mobil-mobil mewah sudah berkeliaran, mall, ITC, Town Scuare sudah ada dimana-mana. Barang-barang tambang sudah mulai digali, emas sudah dikuras, minyak udah eklpoitasi dan sterusnya. Sudah tidak lagi berfikir  Visi Misi dan Strategi, bagaimana strategi kemandirian Negara, strategi melunasi hutang-hutang Negara, strategi mengentaskan kemiskinan, memberdayakan pengemis dan pengamen yang semangkin tak terkendali, tidak lagi berfikir sekala prioritas, mana urusan nyawa, mana urusan gengsi, mena urusan nasi mana urusan dasi. Tidak ada bicara pelita atau repelita, atau pembangunan 10 tahun dan srusnya. Yang difikirkan Pak Ableh dan Pak Ogah adalah yang penting hari ini saya punya uang.. hari ini saya Kenyang…..!

      Cari jalan pintas, dengan harta karun, dengan main dukun, dengan hutang sana sini, dengan melacurkan diri, atau placuran poliitik, dengan menjual asset Negara, semua yang terbayang dibenaknya hanya uang dan uang. Tidak peduli dampak nya, tidak bisa menggunakan matematika antara pajak minuman keras misalnya dengan kerugian yang ditimbulkan, mulai dari subsidi ruamh sakit, anggaran rehabilitasi, sampai pada kerugian social yang terhigung lagi  besarnya tidak bisa dikalkulasi, yang ada semua pajak yang penting duit masuk. Judi, Pelacuran minuman keras gak apa apa yang penting ada pajak… itulah gaya pak Ableh dan Pak Ogah..

              Tidak punya harga diri dan tidak tahu malu, inilah mentalitas pak Ableh, yang suka malakin kepada anak anak kecil karena yang terfikir hanya uang. Bisa kita saksikan dari gaya hidup mulai dari rakyat sampai para penyelenggaranya, symbol-simbol, lambang-lambang, protokoler, ceremonial dan sebagainya sampai kepada penyesusunan RAPBD dan RAPBN, tidak terlihat sedikitpun menggunakan Pradigma Negara Kerisis atau Negara kere.  Semua dibangun diatas dasar paradigma Negara maju, gengsi tidak pada tempatnya, akhirnya malu-maluin, seperti orang kampung  mabok tapi uangnya patungan… timpalannya bakwan dan singkong..gaya hidupnya seoalah-olah tinggal dinegara kaya dan maju.

          Tidak punya rasa kasih sayang, itulah pak Ogah dan Pak Ableh, sekaligus pengecut, karena beraninya malak sama anak-anak kecil teman-temanya Unyil. Warteg pada umumnya adalah warung nasi untuk kelas menengah kebawah, walaupun ada warteg yang agak elit tapi sedikit, juga segmennya tetap saja buat wong cilik. Kalo ini juga akan dikenakan pajak, tidak bisa dihindari lagi bahwa harga makan di warteg juga akan naik. Tentu saja akan semakin memberakan lagi untuk orang kecil. Tapi dasar pak Ogah tidak punya rasa kasih sayang, tidak punya rasa malu dengan teganya juga masih melirik kantong-kantong wong cilik. Benilah nasib tinggal di negeri pemalak, Para Penyelenggaranya  negaranya Pak Ableh dan Pak Ogah…ooh nasib…
Penulis :

abdullah muadz

 

 

 

Nama      :  Abdullah Muadz ( Bang Uwo )

Aktifitas  :

  1. Ketua Umum Assyifa Al-Khoeriyyah Subang
  2. Pendiri Pesantren  Ma’rifatussalaam  Kalijati subang
  3. Pendiri, Trainer & Presenter di “Nasteco”
  4. Pendiri dan Trapis Islamic Healing Cantre
  5. Pendiri LPPD Khairu Ummah Jakarta

This Post Has Been Viewed 678 Times

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *